28 Nov 2025 Admin Post Dibaca 471 kali

"Peternakan Kepulauan : Jalan Baru Ketahanan Pangan Maluku Utara"

"Peternakan Kepulauan : Jalan Baru Ketahanan Pangan Maluku Utara"

Oleh: Fadli
(Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Pertanian, Universitas Khairun)

Ketika Laut Mengelilingi Peternakan

Maluku Utara dikenal sebagai provinsi maritim dengan lebih dari 800 pulau dan 76 persen wilayahnya berupa laut. Kekayaan lautnya melimpah, tetapi di sisi lain, fakta ini juga menyimpan tantangan besar: bagaimana memenuhi kebutuhan pangan hewani bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil ?

Selama ini, sebagian besar daging, telur, dan susu di Maluku Utara masih harus didatangkan dari luar daerah  terutama dari Sulawesi Utara dan Surabaya. Ketergantungan ini membuat harga pangan hewani tinggi dan pasokannya sering tidak stabil, terutama saat cuaca buruk atau kapal pengangkut tertunda.

Namun di balik tantangan itu, sesungguhnya Maluku Utara menyimpan potensi besar di sektor peternakan. Dengan pendekatan yang tepat, peternakan justru bisa tumbuh kuat di tengah laut berbasis sumber daya lokal dan sistem logistik kepulauan.

Sumber Daya yang Terlupakan: Ampas Sagu dan Limbah Ikan

Pulau-pulau di Maluku Utara menghasilkan banyak bahan lokal yang bisa diolah menjadi pakan ternak.
Limbah seperti ampas sagu, bungkil kelapa, dan sisa ikan dari pelabuhan perikanan selama ini sering dibuang begitu saja. Padahal, bahan-bahan ini kaya karbohidrat dan protein, yang bisa diolah menjadi pakan fermentasi bernutrisi tinggi.

Penelitian lokal menunjukkan bahwa penggunaan pakan berbasis sagu dan limbah ikan dapat menekan biaya produksi hingga 30 persen, sekaligus meningkatkan bobot ternak secara signifikan. Dengan teknologi sederhana seperti fermentasi menggunakan EM4 atau ragi  peternak dapat memproduksi pakan sendiri tanpa bergantung pada pakan pabrikan yang mahal. Inilah kekuatan peternakan kepulauan: memanfaatkan apa yang ada di sekitar bukan menunggu kiriman dari kota besar.

Masalah Utama: Logistik dan Kesehatan Hewan

Meski potensinya besar, pengembangan peternakan di Maluku Utara masih menghadapi tiga hambatan utama:

Transportasi dan rantai dingin terbatas. Distribusi daging dan telur antar pulau bergantung penuh pada kapal laut. Saat cuaca buruk, pasokan terhenti dan produk mudah rusak karena tidak semua pelabuhan memiliki cold storage, Layanan kesehatan hewan belum merata, Jumlah dokter hewan aktif di Maluku Utara masih kurang dari 30 orang dan sebagian besar berada di Ternate dan Tidore. Pulau-pulau kecil seperti Morotai, Taliabu, dan Sula sering luput dari layanan vaksinasi dan pengawasan penyakit, Rendahnya adopsi teknologi, Sebagian besar peternak masih menggunakan cara tradisional. Padahal, dengan pelatihan sederhana tentang pengolahan pakan atau pengemasan produk olahan, hasil ternak bisa punya nilai tambah tinggi.

Kunci Keberhasilan: Sistem Hub–Spoke dan Koperasi Pulau

Untuk menjawab tantangan itu, dibutuhkan model baru pengelolaan peternakan yang sesuai dengan karakter kepulauan. Salah satu pendekatan yang kini banyak direkomendasikan adalah model hub spoke, Ternate dan Tidore sebagai pusat distribusi dan pengolahan (hub), dilengkapi dengan fasilitas rantai dingin, rumah potong hewan, dan unit pengemasan produk.
Pulau-pulau besar seperti Halmahera, Morotai, dan Sula berfungsi sebagai spoke (wilayah produksi) yang fokus pada budidaya ternak berbasis sumber daya lokal.
Sistem ini akan mempercepat aliran barang, menekan biaya logistik, dan memperkuat ekonomi antar pulau. Selain itu, pembentukan koperasi peternak pulau menjadi langkah strategis untuk mengelola pakan, mengatur distribusi hasil, dan menjalin kemitraan dengan pemerintah maupun swasta.

Dokter Hewan Keliling dan Teknologi Pakan Lokal

Untuk meningkatkan kesehatan hewan di wilayah terpencil, konsep “mobile vet service” atau layanan dokter hewan keliling perlu diterapkan. Tim dokter dan paramedis dapat berlayar ke beberapa pulau secara rutin untuk melakukan vaksinasi, pemeriksaan, dan penyuluhan.
Sementara itu, universitas dan lembaga riset bisa berperan dalam pendampingan teknologi pakan lokal seperti pengolahan ampas sagu fermentasi dan pembuatan mini-feedmill berbasis komunitas. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, peternakan di kepulauan tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi bisa menjadi motor penggerak ekonomi baru di wilayah pesisir.

Menatap Masa Depan Peternakan Maluku Utara

Peternakan berbasis kepulauan bukan sekadar wacana akademik, Ini adalah strategi nyata untuk memperkuat ketahanan pangan hewani, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Jika pemerintah daerah serius mengembangkan mini-feedmill, cold storage, koperasi peternak, dan layanan veteriner keliling, maka Maluku Utara berpeluang menjadi model nasional peternakan maritim Indonesia.

Dari sagu, kelapa, dan ikan, lahir daging dan telur yang menyehatkan.
Dari pulau-pulau kecil, lahir kemandirian pangan yang besar.

https://www.kompasiana.com/alfadly3852/68ec6bffed641577a86e3092/peternakan-kepulauan-jalan-baru-ketahanan-pangan-maluku-utara?page=3&page_images=1