Strategi Pertanian Berkelanjutan Di Musim Kemarau Pada Lahan Tadah Hujan
Oleh : Udhi Slamet
Mahasiswa Pascasarjana MIP Unkhair
Jumlah penduduk Kota Ternate setiap tahun semakin bertambah sehingga semakin bertambah pula jumlah bahan pangan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Bahan pangan tersebut, sebagian diperoleh dari hasil pertanian di Kota Ternate sendiri, sebagian lainnya didatangkan dari luar Kota Ternate. Hal ini karena hasil pertanian di Kota Ternate belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Kota Ternate.
Tingkat kebutuhan terhadap bahan pangan yang cukup tinggi di Kota Ternate merupakan potensi pasar yang baik dan terus menerus bagi pemasaran hasil usaha budidaya pertanian, termasuk usaha budidaya tanaman semusim. Potensi pasar tersebut perlu dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Ternate, khususnya oleh para petani yang mempunyai lahan pertanian yang bisa ditanami dengan tanaman semusim.
Lahan pertanian yang bisa ditanami dengan tanaman semusim di Kota Ternate umumnya adalah lahan tadah hujan, karena tidak ada sungai ataupun sumber air untuk menunjang sistem irigasi teknis.
Untuk meningkatkan kemandirian Kota Ternate dan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di Kota Ternate, maka perlu dilakukan upaya yang dapat mendorong para petani untuk meningkatkan hasil pertaniannya.
Salah satu upaya dalam mendorong para petani untuk meningkatkan hasil pertaniannya adalah dengan memberikan pengetahuan tentang pengelolaan unsur-unsur iklim atau agroklimat, air, tanah dan udara yang baik untuk menunjang usaha budidaya pertanian.
Unsur iklim yang berperanan dalam penyediaan air untuk kebutuhan budidaya pertanian khususnya pada lahan tadah hujan adalah unsur jumlah curah hujan. Jumlah curah hujan pada wilayah Kota Ternate tidak sama antara satu bulan dengan bulan lainnya dalam satu tahun, hal ini berkaitan dengan terjadinya musim hujan dan musim kemarau.
Bila curah hujan bulanan selama musim tanam rata-rata kurang dari 200 mm per bulan maka musim itu tidak baik untuk padi dan bila rata-ratanya kurang dari 100 mm per bulan maka tidak baik untuk palawija. Periode tanam yang total curah hujannya melebihi evapotranspirasi disebut periode tanam yang normal. Bulan yang curah hujannya antara 100 -- 200 mm digolongkan sebagai bulan tanam (Sutidjo, 1986).
Dari analisa terhadap data unsur jumlah curah hujan bulanan untuk kebutuhan budidaya pertanian di Kota Ternate berdasarkan data dari tahun 1995 s.d. 2024 dari Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, diperoleh nilai rata-rata jumlah curah hujan bulanan dari bulan Januari s.d Desember sebagai berikut : Januari 234 mm, Pebruari 164 mm, Maret 199 mm, April 223 mm, Mei 277 mm, Juni 209 mm, Juli 163 mm, Agustus 108 mm, September 102 mm, Oktober 156 mm, Nopember 222 mm, Desember 285 mm.
Dari analisa peluang jumlah curah hujan bulanan untuk dilampaui dengan peluang 75% untuk dilampaui, berdasarkan data dari tahun 1995 s.d. 2024 pada Stasiun Meteorologi Babullah Ternate, diperoleh nilai jumlah curah hujan bulanan (75%) sebagai berikut : Januari 134 mm, Pebruari 90 mm, Maret 91 mm, April 150 mm, Mei 197 mm, Juni 158 mm, Juli 66 mm, Agustus 27 mm, September 25 mm, Oktober 25 mm, Nopember 131 mm, Desember 145 mm.
Dari nilai rata-rata jumlah curah hujan bulanan (mm) dapat diketahui ada dua kali urutan bulan yang tiga bulannya berurutan dengan jumlah curah hujan lebih dari 200 mm yaitu bulan April, Mei dan Juni serta bulan Nopember, Desember dan Januari. Disamping itu pada bulan-bulan lainnya, rata-rata curah hujan bulanannya semua diatas 100 mm, dengan nilai terendah 102 mm pada bulan September.
Sedangkan dari nilai jumlah curah hujan bulanan (mm) dengan peluang 75% untuk dilampaui, dapat diketahui bahwa : tidak ada bulan dengan peluang jumlah curah hujan lebih dari 200 mm, dan bulan yang peluang curah hujannya antara 100 -- 200 mm ada 6 bulan yaitu bulan : Januari, April, Mei, Juni, Nopember dan Desember, sedangkan 6 bulan lainnya dengan peluang jumlah curah hujan bulanan (mm) kurang dari 100 mm, yaitu bulan : Pebruari, Maret, Juli, Agustus, September dan Oktober.
Untuk usaha budidaya pertanian pada lahan tadah hujan di Kecamatan Kota Ternate Utara, dengan mempertimbangkan data dari nilai rata-rata jumlah curah hujan bulanan dan nilai jumlah curah hujan bulanan dengan peluang 75% untuk dilampaui, akan berdampak terhadap adanya optimisme untuk memulai usaha budidaya pertanian disertai tindakan kewaspadaan dengan menjaga agar tetap tersedia air yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman. Optimisme ini didasari oleh data rata-rata curah hujan bulanan yang semuanya diatas 100 mm sehingga semuanya termasuk dalam golongan bulan tanam. Sedangkan tindakan kewaspadaan didasari oleh data jumlah curah hujan bulanan dengan peluang 75% untuk dilampaui yang menunjukkan hanya ada 6 bulan tanam, dan 6 bulan lainnya dengan jumlah curah hujan bulanan kurang dari 100 mm. Beberapa tindakan kewaspadaan yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan pemanenan air hujan serta dengan penggunaan mulsa penutup tanah pada lahan budidaya tanaman.
Pemanenan air hujan dapat dilakukan dengan mengumpulkan air dari air hujan yang turun pada atap bangunan ataupun dari air limpasan (run off) yang mengalir di permukaan tanah. Cara pemanenan air hujan yang akan diterapkan pada suatu lahan, perlu memperhatikan kondisi lingkungan pada lahan. Beberapa cara pemanenan air yang bisa diterapkan diantaranya :
a. Kolam Pengumpul Air Hujan.
b. Sumur Resapan.
c. Embung.
d. Bak Penampungan Air / Tangki Air / Toren.
e. Penampung Terbuka.
f. Beton Tanam.
Disamping melakukan pemanenan air hujan, penggunaan mulsa penutup tanah juga bisa berfungsi dalam menjaga ketersediaan air untuk mencukupi kebutuhan air tanaman. Manfaat mulsa penutup tanah bagi pertumbuhan tanaman :
a. Mencegah pertumbuhan gulma.
b. Mengurangi erosi permukaan tanah.
c. Menyeimbangkan dan menjaga kelembapan tanah.
d. Meningkatkan penyerapan air.
e. Mengurangi kehilangan pupuk.
f. Khusus mulsa organik : menyediakan nutrisi dan unsur hara tambahan.
g. Menghemat biaya penyiangan gulma.
h. Mencegah Serangan Hama dan Penyakit.
Dengan melakukan pemanenan air hujan dan penggunaan mulsa penutup tanah pada lahan budidaya tanaman, maka masalah kurangnya ketersediaan air untuk mencukupi kebutuhan air tanaman yang disebabkan oleh adanya musim kemarau serta kejadian hujan yang tidak turun setiap hari akan dapat diatasi.
Dengan melakukan pemanenan air hujan dan penggunaan mulsa penutup tanah pada lahan, maka budidaya tanaman semusim tetap bisa dilakukan secara berkelanjutan dalam satu tahun tanpa perlu dilakukan masa bera pada lahan. Dampak yang dirasakan adalah meningkatnya ketahanan pangan dan kemandirian Kota Ternate serta meningkatnya kesejahteraan para petani di Kota Ternate.
Meskipun telah ditemukan solusi untuk budidaya tanaman semusim dilahan tadah hujan pada musim kemarau seperti tersebut diatas, tetapi masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait seberapa besar volume ideal wadah pemanenan air. Hal ini bertujuan agar wadah pemanenan airnya tidak kekecilan sehingga volume air yang tertampung tidak cukup untuk mengairi tanaman, ataupun wadah pemanenan airnya kebesaran sehingga memerlukan biaya pembuatan yang lebih besar. Penelitian lebih lanjut juga terkait penggunaan mulsa jenis apa yang paling efektif untuk pertumbuhan dan produksi tanaman.
Disamping itu, kewaspadaan terhadap potensi kemungkinan terjadinya musim kemarau yang ekstrim sangat panjang yang bisa terjadi saat adanya fenomena El Nino juga harus menjadi perhatian khusus. Informasi tentang akan terjadinya El Nino dari BMKG perlu pula untuk diantisipasi dengan berbagai tindakan yang sesuai. Penelitian lebih lanjut untuk mengatasi masalah ini terkait bagaimana cara pemanenan dan penyimpanan air yang perlu diterapkan serta bagaimana metode import air yang tepat bila diperlukan.